Autonomous Driving Level 3: Antara Kenyamanan dan Batasan Regulasi Keamanan

Perjalanan menuju kendaraan yang sepenuhnya dapat mengemudi sendiri (Full Self-Driving) telah mencapai tonggak penting dengan diperkenalkannya sistem Autonomous Driving Level 3. Pada level ini, mobil dapat mengambil alih semua aspek pengemudian dalam kondisi tertentu—seperti di jalan tol yang lancar atau kemacetan—memberikan tingkat kenyamanan baru bagi pengemudi yang kini diizinkan mengalihkan perhatian dari jalan (misalnya, menonton film atau bekerja). Namun, level 3 ini menciptakan zona abu-abu yang kompleks: pengemudi harus siap mengambil alih kemudi kapan saja diminta oleh sistem. Inilah yang menjadi titik ketegangan utama antara kemajuan teknologi dan batasan regulasi keamanan yang ketat.

Sistem Autonomous Driving Level 3, yang secara teknis dikenal sebagai Conditional Automation, berbeda dari Level 2 (seperti adaptive cruise control) karena sistemnya bertanggung jawab penuh untuk mengamati lingkungan dan membuat keputusan dalam domain operasional tertentu (Operational Design Domain/ODD). Ketika mobil mendeteksi bahwa batas ODD (misalnya, cuaca buruk atau kondisi lalu lintas yang terlalu kompleks) akan segera terlampaui, sistem akan mengeluarkan peringatan untuk meminta pengemudi mengambil alih kendali. Waktu yang diberikan untuk transisi ini, yang dikenal sebagai takeover request, biasanya berkisar antara 5 hingga 10 detik. Penelitian yang dilakukan oleh Institut Keselamatan Transportasi pada tanggal 19 Agustus 2024 menemukan bahwa pengemudi yang terdistraksi membutuhkan rata-rata 5,1 detik untuk kembali menyadari situasi dan merespons permintaan takeover.

Tantangan regulasi dan keamanan yang paling besar adalah masalah tanggung jawab (liability). Dalam sistem Autonomous Driving Level 3, ketika terjadi kecelakaan saat sistem aktif dan berada dalam ODD-nya, siapakah yang bertanggung jawab: pengemudi yang tidak memegang kemudi, atau pabrikan mobil? Beberapa negara telah mengambil langkah progresif. Sebagai contoh, pemerintah di Eropa pada akhir tahun 2023 telah mengeluarkan kerangka regulasi yang menyatakan bahwa pabrikan bertanggung jawab jika sistem gagal meminta takeover atau gagal berfungsi dalam batas ODD yang diizinkan. Regulasi ini, yang merupakan respons terhadap tekanan publik dan industri, mencoba memberikan kepastian hukum.

Untuk mengatasi risiko transisi yang lambat, produsen mobil yang mengimplementasikan Autonomous Driving Level 3 telah mengembangkan sistem pemantauan pengemudi yang canggih (Driver Monitoring Systems/DMS). DMS menggunakan kamera inframerah untuk memastikan pengemudi tetap berada di kursi pengemudi, matanya tidak tertutup, dan siap untuk mengambil alih kendali jika diperlukan. Jika pengemudi gagal merespons permintaan takeover dalam waktu yang ditetapkan, sistem akan mengaktifkan Minimum Risk Manoeuvre (MRM), yaitu secara perlahan menghentikan mobil di jalur yang aman.