Dunia balap motor sering kali diidentikkan dengan kebisingan, ceceran oli, dan kerumunan massa yang meninggalkan jejak lingkungan cukup besar. Namun, di tahun 2026, sebuah revolusi hijau sedang berlangsung di Sulawesi. Melalui gerakan Balap Tanpa Sampah, wajah kompetisi otomotif di wilayah ini berubah total menjadi lebih berkelanjutan. Inisiatif ini bermula ketika IMI Gorontalo terapkan aturan plastik sekali pakai secara ketat bagi seluruh elemen yang terlibat dalam ajang balapan. Kebijakan ini mewajibkan semua orang, mulai dari pebalap, kru mekanik, hingga penonton, untuk tidak membawa atau menggunakan material non-organik tertentu di lingkungan di sirkuit.
Konsep Balap Tanpa Sampah ini lahir dari keprihatinan terhadap volume limbah plastik yang selalu menumpuk setiap kali usai gelaran event besar. Saat IMI Gorontalo terapkan aturan plastik sekali pakai, mereka menyediakan stasiun pengisian air minum gratis di berbagai sudut area penonton dan paddock. Setiap orang diwajibkan membawa botol minum (tumbler) sendiri. Jika ada pedagang makanan atau minuman yang kedapatan melanggar aturan di lingkungan di sirkuit, mereka akan dikenakan sanksi berupa pencabutan izin dagang untuk event selanjutnya. Langkah tegas ini diambil untuk mengedukasi masyarakat bahwa hobi otomotif tidak harus merusak kelestarian alam Gorontalo yang indah.
Kesuksesan program Balap Tanpa Sampah juga sangat bergantung pada kedisiplinan para tim balap. Dalam regulasi terbaru, saat IMI Gorontalo terapkan aturan plastik sekali pakai, setiap tim diwajibkan memiliki sistem pengelolaan limbah mandiri di tenda mereka masing-masing. Penggunaan pembungkus ban, botol oli, hingga kemasan suku cadang harus dikelola agar tidak tercampur dengan sampah domestik. Pengelola kawasan di sirkuit bekerja sama dengan bank sampah lokal untuk memastikan bahwa sisa-sisa material balap dapat didaur ulang secara optimal. Hal ini membuktikan bahwa komunitas motor mampu menjadi pelopor gerakan sadar lingkungan yang progresif di Indonesia Timur.
Penerapan Balap Tanpa Sampah ternyata juga berdampak pada efisiensi biaya operasional sirkuit. Dengan fakta bahwa IMI Gorontalo terapkan aturan plastik sekali pakai, biaya pengangkutan sampah pasca-balapan menurun drastis hingga 70%. Uang yang semula digunakan untuk jasa kebersihan kini dialokasikan untuk peningkatan fasilitas keselamatan bagi para pebalap di sirkuit. Selain itu, kebersihan area tribun membuat penonton merasa lebih nyaman dan betah menghabiskan waktu bersama keluarga, yang secara tidak langsung meningkatkan nilai ekonomi dari penjualan tiket dan merchandise resmi kompetisi.